Legenda 3 Wilayah Asal Muasal Desa Logandeng
Berawal dari pelarian Majapahit yang salah satunya bernama Ki Pager
Wasesa memasuki wilayah Redikidul (Gunungkidul sekarang). Dia adalah
salah satu Senopati perang dari Majapahit. Dalam Perjalannanya dia
akhirnya memutuskan untuk bertempat tinggal di tengah Hutan. Menjadi
rakyat jelata adalah pilihannya agar bisa hidup tenang dan nyaman. Untuk
bertahan hidup, berburu dan bertani adalah kegiatan yang dilakoninya.
Dia juga memiliki keahlian dalam bidang mengolah bahan baku besi menjadi
senjata dan alat-alat pertanian.
Profesi membuat alat-alat pertanian berbahan baku besi inilah yang
membuat masyarakat lebih mengenal dia sebagai Pager Wesi. Selain sebagai
tukang pande besi, dia juga dipercaya ahli dalam pengobatan. Kedua
profesi inilah yang akhirnya membuat banyak orang datang dan bermukin di
sekitar kediaman Ki Pager Wesi. Maka untuk menghormati Ki Pager Wesi
tempat yang sebelumnya hutan ini diberi nama Pager.
Sesuai kebiasaan orang-orang ketika hendak pergi ketempat Ki Pager
Wesi, mereka menyebut pergi ke Mbah Pager atau pergi ke Pager. Diapun
menghabiskan sisa hidupnya sebagai rakyat biasa sampai meninggal.
Masyarakat yang terlanjur bertempat tinggal di sanapun memakamkan dia di
sekitar Pager. Dipercaya makam Mbah Pager ada di Bandung.
Dikisahkan bahwa dalam pelariannya dari Majapahit, dia mengembara
bersama adik perempuannya yaitu Nyi Andan Sari. Dan Nyi Andan Sari
inilah yang dipercaya sebagai cikal bakal desa Bandung. Sebuah wilayah
disebelah barat Pager.
Sepeninggalan Ki Pager Wesi, diarah selatan hadirlah penggembara yang
juga pelarian dari Majapahit. Hutan yang masih lebat di jadikan tempat
terakhir untuk bertempat tinggal. Dia adalah Ki Jogurdo. Sebagai
pendatang di wilayah tersebut, menggunakan kemampuan ilmu kanuragannya
sebagai sarana pengobatan adalah pilihannya. Bahkan sebagai orang yang
dianggap ahli dalam pengobatan Ki Jogurdo banyak didatangi orang-orang
dari berbagai wilayah termasuk yang berasal dari Pager.
Banyak orang yang datang dan bermukim di dekat Ki Jogurdo. Keadaan ini membuat Ki Jogurdo memutuskan pada hari Senin Kliwon,
bersama warga yang bermukim untuk memperluas wilayah pemukimannya.
Hutan lebat yang kaya raya, subur dan tersedia berbagai kebutuhan hidup
di kala itu di beri nama Bumi Siono. Sebagai manifestasi dari
sebuah Bumi yang berisi. Atau dalam bahasa Jawa di sebut “Isine Ono”.
Artinya bahwa wilayah yang didiami Ki Jogurdo dan pendatang berikutnya
telah menyediakan segala sesuatunya.
Kemampuannya dalam ilmu kanuragan juga digunakan untuk tetap menjaga
area hutannya dan menekuni pertanian. Ki Jogurdo pun menghabiskan sisa
hidupnya di Bumi yang sangat makmur karena kekayaan alamnya ini. Dia
wafat dan di makamkan di dekat pemukiman. Keberadaan sebuah Makam di
wilayah Wit Ijo di percaya sebagai makam dia. (Sekarang berada di
perbatasan Siyono Kulon dan Tengah)
Semasa Ki Jogurdo masih hidup tersebutlah pelarian dari arah yang
sama, Dia adalah Ki Josingo. Ki Josingo yang sakti mandraguna ini
memilih menempati area yang di batasi oleh sungai. Dia memilih menempati
wilayah antara Warga Ki Pager Wesi dan Warga Ki Jogurdo. Wilayah yang
berdekatan dengan Alas Jati Gandhok lah yang dia pilih untuk bermukim
(masyarakat mempercayai "Sumur Kidul" adalah rumah dia). Menjadi resi
dan mengobati warga adalah profesi yang di lakukan agar bisa membaur
dengan warga dari kedua wilayah yang lebih dulu menempati. Sebagai
seorang resi yang mampu mengobati penyakit, olah bathin dan olah
kanuragan di jadikan metode pengobatannya. Gamelanpun di jadikan sarana
pengobatan. Hingga dia memiliki beberapa kelompok kesenian untuk syiar
kebathinannya dan mendukung metode pengobatannya.
Tersebutlah Alas Mblengkok yang angker dan banyak penjahat yang
membuat resah warga wilayah Pager dan Jati Gandok. Atas keinginan warga
dari kedua wilayah tersebut, Ki Josingo melaksanakan Babad Alas Blengkok
pada hari Senin Pahing. Hingga akhirnya Alas Blengkok di
tetapkan sebagai tapal batas antara wilayah warga Jati Gandok dengan
wilayah Pager. Blengkok yang berarti tikungan atau plengkungan jalan
menjadi kata Plembongan. Hingga sampai sekarang wilayah tersebut lebih
di kenal dengan kata Plembongan atau Plembon. Demikianlah ketiga wilayah terbentuk bahu membahu saling membantu dan saling membutuhkan.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Logandeng,_Playen,_Gunung_Kidul
.png)